Rabu, 05 Juni 2013

Jurnal



Tugas Jurnal
Reza Taufik A.
21209504
4EB13

ANALISIS PENGARUH KURS EURO DAN TINGKAT INFLASI TERHADAP HARGA SAHAM PT.INDOFOOD SUKSES MAKMUR,TBK.

ABSTRAK

Kondisi perekonomian di Indonesia sedang dalam proses ke arah yang lebih baik meskipun masih banyak rintangan dan tantangan yang akan menghalanginya. Rintangan yang mungkin akan dihadapi adalah dari segi tingkat inflasi dan dari segi perubahan kurs mata uang asing termasuk kurs euro. Adanya perubahan dari kedua variabel tersebut mungkin akan membuat pengaruh yang signifikan terhadap harga saham perusahaan yang terdaftar di pasar modal, salah satunya PT.Indofood Sukses Makmur, Tbk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh yang signifikan dari kedua variabel tersebut terhadap harga saham perusahaan yang diteliti. Metode yang dipakai dalam penelitian ini yaitu analisis regresi linier berganda, termasuk uji-t dan uji-f yang datanya diolah dengan menggunakan bantuan software SPSS v17.0. Hasil dari penelitian ini adalah ditunjukkan dari hasil uji-t dan dari hasil uji-f dimana nilai dari kedua variabel tersebut menunjukkan tidak adanya pengaruh yang signifikan antara masing-masing variabel maupun secara bersamaan terhadap harga saham PT.Indofood Sukses Makmur, Tbk. dan hanya memiliki kontribusi atau pengaruh sebesar 22% yang diperoleh dari uji determinasi. Kesimpulan berdasarkan pada hasil penelitian tersebut maka menunjukkan tidak adanya pengaruh dari kedua faktor atau variabel tersebut terhadap harga saham perusahaan yang diteliti.

Kata Kunci : Kurs Euro, Tingkat Inflasi, Harga Saham

PENDAHULUAN

Dalam era globalisasi yang ditandai oleh semakin meningkatnya berbagai macam jenis transaksi ekonomi dan keuangan dari sektor perbankan, sektor perindustrian, dan sektor lainnya, kondisi perekonomian di Indonesia sedang dalam proses perubahan ke arah yang lebih baik meskipun masih banyak rintangan dan tantangan yang akan menghalangi untuk mencapai perekonomian yang sesuai dengan harapan. Rintangan yang mungkin akan dihadapi oleh perekonomian Indonesia adalah dari segi tingkat inflasi yang akan terus menerus berubah dari waktu ke waktu dan juga dari segi perubahan kurs mata uang asing yang akan selalu mempengaruhi nilai tukar rupiah serta mengakibatkan pergeseran dari harga saham yang diperdagangkan pada pasar modal yang terdapat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Adanya perubahan dari kedua faktor tersebut mungkin akan membuat pengaruh yang signifikan bagi para investor atau debitur yang ingin menanamkan modal ataupun dananya pada saham yang ditunjuknya untuk dapat menghasilkan keuntungan.                                                       
Inflasi dapat merubah sistem perekonomian suatu negara baik yang sedang dalam kondisi baik terlebih lagi yang sedang dalam kondisi yang buruk dan dampaknya dapat meluas hingga mengakibatkan krisis seperti yang telah dialami oleh pemerintahan Indonesia pada tahun 1998 dan menjadikan harga-harga mengalami kenaikan serta membuat banyak perusahaan atau lembaga yang bangkrut akibat terjadinya inflasi tersebut.                      
Kurs mata uang asing yang mungkin sering diteliti untuk dijadikan acuan dalam nilai tukar rupiah adalah kurs dollar, tetapi mungkin saja ada satu lagi yang masih bisa dibahas untuk mengikuti perkembangan perekonomian global yaitu kurs euro yang merupakan gabungan dari beberapa mata uang negara-negara di benua Eropa yang dijadikan sebagai pusat pertukaran mata uang di Eropa saat ini. Pergerakan kurs euro yang semakin tinggi terhadap kurs dollar akan mempengaruhi nilai tukar rupiah dan juga perubahan dari harga saham perusahaan-perusahaan yang terdapat di pasar modal, terutama perusahaan yang berada pada sektor industri, salah satunya yang bergerak pada sektor industri makanan seperti PT. Indofood  Sukses Makmur Tbk. Perusahaan ini merupakan perusahaan yang mengembangkan dan memproduksi berbagai macam produk-produk makanan yang sampai sekarang terus melakukan inovasi untuk memperbaiki dan memperbaharui produknya agar mendapatkan perhatian dan minat dari para konsumen yang selama ini menjadi tujuannya. Dengan berupaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas dari produksi perusahaannya, perusahaan ini juga selalu mengikuti perkembangan yang dilihat dari perubahan harga saham yang dimilikinya pada pasar modal yang terdapat di Bursa Efek Indonesia.

TINJAUAN PUSTAKA

Kurs adalah perbandingan nilai mata uang suatu negara dengan mata uang negara lainnya. Kurs valuta asing atau kurs mata uang asing menunjukkan harga atau nilai mata uang sesuatu negara dinyatakan dalam nilai mata uang negara lain. Kurs valuta asing dapat juga didefinisikan sebagai jumlah uang domestik yang dibutuhkan, yaitu banyaknya rupiah yang dibuthkan, untuk memperoleh satu unit mata uang asing. (Sadono Sukirno, 2008 : 397).
Munculnya mata uang Euro merupakan fenomena berkembangnya sistem moneter internasional di negara-negara Eropa yang berpengaruh terhadap sistem dan prosedur pembayaran internasional. Secara resmi Euro diluncurkan sejak 1 Januari 1999 berlaku untuk sebagian besar negara-negara di Eropa yang berpenduduk kurang lebih 290 juta jiwa yang menyumbang sebesar 19,4% dari total nilai produk dunia. Peluncuran mata uang Euro terjadi hampir empat dekade setelah pembentukan Pasar Bersama Eropa (European Common Market) dan delapan tahun sejak Presiden Prancis Francois Mitterand dan Kanselir Jerman Helmut Kohl yang mendesak pembentukan mata uang tunggal Eropa (European Monetary Union = EMU) pada KTT Eropa di Maastricht. Untuk mewujudkan mata uang tunggal Eropa ada lima kriteria dari keanggotaan mata uang tunggal Eropa yang membolehkan negara-negara pendukungnya meleburkan mata uang nasionalnya yaitu :
1.      Stabilitas harga yang ditandai dengan laju inflasi tidak melebihi angka 1,5% inflasi terendah di tiga anggota EMU.
2.      Rasio defisit anggaran tidak lebih dari 3% dari GDP.
3.      Rasio utang terhadap GDP tidak boleh lebih dari 60%.
4.      Fluktuasi kurs atas dasar marjin normal yang sedikitnya dua tahun tidak terjadi devaluasi dengan inisiatif sendiri atas mata uang negara Eropa lain.
5.      Suku bunga nominal jangka panjang tidak boleh melebihi 2% point di atas suku bunga tiga negara anggota yang memiliki tingkat inflasi terbaik.
Embrio mata uang Eropa yang disebut Unit Mata Uang Eropa (European Currency Unit = ECU) yang nilai kursnya didasarkan pada bobot pada masing-masing mata uang dari seluruh negara anggota sesuai dengan  nilai tukarnya masing-masing. Mekanisme pemberlakuan mata uang Euro dilakukan melalui beberapa tahapan. Pemberlakuan secara resmi dilakukan pada tanggal 1 Januari 1999 yang dilakukan di 11 negara dari 15 negara anggota Uni Eropa yaitu Austria, Belanda, Belgia, Finlandia, Irlandia, Italia, Jerman, Luksemburg, Perancis, Portugal dan Spanyol. Dan secara bertahap beberapa negara Eropa lainnya menyusul menjadi negara anggota Uni Eropa. Sebelum menjadi mata uang penuh, pada tahap awal pelaksanaan yaitu waktu antara 1 Januari 1999 sampai Desember 2001 diberlakukan kurs tetap antara Euro dengan mata uang 11 negara tersebut. Sehingga Euro akan beredar secara berdampingan dengan mata uang 11 negara tersebut dan perhitungan transaksi dilakukan dengan mata uang lokal dan Euro. Selanjutnya dalam rentang waktu antara Januari 2002 sampai akhir Juni 2002 mata uang Euro digunakan secara efektif dalam transaksi perdagangan disamping dengan mata uang lokal dan secara bertahap mata uang lokal ditarik dari peredaran diganti dengan mata uang Euro. Jadi mata uang Euro mulai beroperasi secara penuh pada tanggal 1 Juli 2002 menggantikan mata uang lokal sebagai alat transaksi dari negara-negara anggota. Massa transisi dari mata uang lokal ke mata uang Euro menimbulkan persoalan yang kompleks di pasar saham dan pasar uang. Nilai tukar Euro ditetapkan pada tanggal 1 Januari 1999 pada posisi 1,1 US $ - 1,2 US $ per Euro. Sedangkan konversi Euro terhadap mata uang negara pendukung lainnya untuk tiap 1 Euro ditetapkan sebesar :
·         6,55957 Franc (Perancis)
·         1,95583 Mark (Jerman)
·         0,787564 Punt (Irlandia)
·         1.936,27 Lira (Italia)
·         40,3399 Frank (Belgia/Luksemburg)
·         166,386 Peseta (Spanyol)
·         2,20371 Gulden (Belanda)
·         13,7603 Schilling (Austria)
·         200,482 Escudo (Portugal)
·         5,94573 Mark (Finlandia)
Pada saat yang sama Euro ditetapkan nilainya terhadap Dollar AS sebesar 1,16675 dan terhadap Yen Jepang sebesar 132,80. Implikasi pemberlakuan Euro terhadap perekonomian Indonesia akan meningkatkan transparansi harga di negara-negara anggota EMU karena memiliki standar harga yang sama. Disamping itu komponen transactional cost dapat ditekan karena pembayaran ekspor tanpa mata uang perantara di negara yang menerapkan Euro. Dengan kondisi seperti ini memberikan  peluang lebih luas bagi para pelaku ekonomi perdagangan internasional disamping itu negara tujuan ekspor untuk kawasan Eropa menjadi lebih luas dan bervariasi karena menggunakan mata uang yang lebih konvertibel. Pemberlakuan mata uang Euro juga diyakini akan menstabilkan mata uang negara-negara Eropa sehingga pada gilirannya dapat mendorong iklim pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Kondisi seperti ini pada akhirnya dapat meningkatkan permintaan barang-barang ekspor asal Indonesia disamping juga meningkatkan persaingan antar negara eksportir untuk memperebutkan pasar di kawasan Eropa. Jadi penyatuan mata uang Eropa akan meningkatkan peluang ekspor Indonesia artinya aktivitas ekspor menjadi lebih mudah dan lebih murah karena dengan mata uang yang lebih konvertibel biaya ekspor dapat lebih efisien. Sedangkan bagi importir juga memberikan keuntungan ekonomis karena memberikan ruang gerak yang lebih leluasa bagi pengusaha untuk mendistribusikan resiko mata uangnya yang selama ini didominasi mata uang Dollar AS. (Imamudin Yuliadi, 2008 : 35-36).
Inflasi merupakan fenomena ekonomi yang menyangkut dimensi ekonomi dan non-ekonomi seperti aspek sosial, politik, dan budaya masyarakat. Sehingga kategorisasi inflasi dapat dilihat dari beberapa dimensi yaitu inflasi berdasarkan sifatnya, besarnya laju inflasi, sumber asalnya dan berdasarkan faktor penyebabnya.
Pengertian saham menurut (M. Paulus Sitomorang, 2008 : 45) adalah tanda penyertaan modal pada suatu perusahaan perseroan terbatas dengan manfaat yang dapat diperoleh berupa :
1.      Deviden yaitu bagian dari keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemilik saham.
2.      Capital Gain adalah keuntungan yang diperoleh dari selisih jual dengan harga belinya.
Manfaat non finansial antara lain berupa konsekuensi atas kepemilikan saham berupa kekuasaan, kebanggaan dan khususnya hak suara dalam menentukan jalannya perusahaan.

Faktor yang Mempengaruhi Harga Saham

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pergerakan harga saham atau indeks harga saham, antara lain sebagai berikut :
1.      Faktor Internal (Lingkungan Mikro)
§  Pengumuman tentang pemasaran, produksi, penjualan, rincian kontrak, penarikan produk baru, perubahan harga, laporan produksi, laporan keamanan produk dan laporan penjualan.
§  Pengumuman pendanaan, seperti pengumuman yang berhubungan dengan ekuitas dan hutang.
§  Pengumuman badan direksi manajemen, seperti perubahan dan pergantian direktur, manajemen dan struktur organisasi.
§  Pengumuman ketenagakerjaan, seperti negosiasi baru, kontrak baru, pemogokan dan lainnya.
§  Pengumuman pengambilalihan diversifikasi, seperti laporan merger, investasi ekuitas, laporan take over oleh pengakuisisian dan diakuisisi, laporan divestasi dan lainnya.
§  Pengumuman investasi, seperti melakukan ekspansi pabrik, pengembangan riset dan penutupan usaha lainnya.
§  Pengumuman laporan keuangan perusahaan, seperti peramalan laba sebelum akhir tahun fiskal dan setelah akhir tahun fiskal, earning per share (EPS), price earning ratio (PER), net profit margin, return on assets (ROA), dan lain-lain.

2.      Faktor Eksternal (Lingkungan Makro)
§  Pengumuman dari pemerintah, seperti perubahan suku bunga tabungan dan deposito, kurs valuta asing, inflasi, serta berbagai regulasi dan deregulasi ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah.
§  Pengumuman industri sekuritas, seperti laporan pertemuan tahunan, insider trading, volume atau harga saham perdagangan, pembatasan atau penundaan trading.
§  Pengumuman hukum, seperti tuntutan karyawan terhadap perusahaan atau terhadap manajernya dan tuntutan perusahaan terhadap manajernya.
§  Gejala politik dalam negeri dan fluktuasi nilai tukar juga merupakan faktor yang mempunyai pengaruh yang signifikan pada terjadinya pergerakan harga saham di bursa efek suatu negara.
§  Berbagai isu baik dari dalam negeri dan luar negeri.

Metode Penelitian

Data yang digunakan dalam penulisan ilmiah ini adalah :
1)      Variabel bebas atau tidak terikat adalah kurs euro dan tingkat inflasi periode Januari 2011 sampai Desember 2011.
2)      Variabel tidak bebas atau terikat adalah pergerakan harga saham PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. periode Januari 2011 sampai Desember 2011.
Metode Pengumpulan Data
Untuk memperoleh dan mandapatkan data-data yang dibutuhkan dalam penulisan ilmiah ini, penulis menggunakan metode field research atau penelitian lapangan dimana data-data yang diperoleh memakai data sekunder yang didapat dari beberapa situs yang ada di internet. Mengenai laporan harga saham PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. diperoleh melalui situs Bursa Efek Indonesia dan mengenai kurs euro diperoleh melalui situs resmi Bank Indonesia serta tingkat inflasi diperoleh melalui situs resmi Badan Pusat Statistik.

Alat Analisis Yang Digunakan
Untuk menguji hipotesis yang akan diuji tentang kekuatan variabel bebas (independent variable) yaitu kurs euro dan inflasi terhadap variabel terikat (dependent variable) yaitu harga saham. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik analisis regresi linier berganda (multiple regression analysis model).
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh beberapa variabel bebas terhadap satu variabel tak bebas, dan juga untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh beberapa variabel bebas terhadap satu variabel tak bebas.

PEMBAHASAN

Tabel 1 Data Harga Saham PT. Indofood Sukses Makmur,Tbk. Periode Tahun 2011
BULAN
HARGA SAHAM
Januari
4,754
Februari
4,750
Maret
5,005
April
5,443
Mei
5,538
Juni
5,422
Juli
5,967
Agustus
6,368
September
5,311
Oktober
5,281
November
4,886
Desember
4,689
            Sumber : Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id)

Tabel 2  Data Kurs Euro terhadap Rupiah Periode Tahun 2011           
BULAN
KURS EURO
Januari
12108,76
Februari
12230,94
Maret
12314,57
April
12534,45
Mei
12352,65
Juni
12383,95
Juli
12241,19
Agustus
12258,89
September
12076,30
Oktober
12232,67
November
12274,77
Desember
12020,62
            Sumber : Bank Indonesia (www.bi.go.id)

Tabel 3  Data Tingkat Inflasi Periode Tahun 2011
BULAN
TINGKAT INFLASI
Januari
0.89
Februari
0.13
Maret
-0.32
April
-0.31
Mei
0.12
Juni
0.55
Juli
0.67
Agustus
0.93
September
0.27
Oktober
-0.12
November
0.34
Desember
0.57
            Sumber : Badan Pusat Statistik (www.bps.go.id)
Hasil Analisis Pengaruh Kurs Euro dan Tingkat Inflasi terhadap Harga Saham
Analisis Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif merupakan bidang ilmu statistik yang mempelajari cara-cara pengumpulan, penyusunan dan penyajian ringkasan data penelitian. Secara harafiah, deskriptif berarti memberi gambaran, statistik deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran dan menyajikan data. Data-data tersebut harus diringkas dengan baik dan teratur, baik dalam bentuk tabel atau persentasi grafik, sebagai dasar untuk berbagai pengambilan keputusan. Dalam analisis statistik deskriptif ini, peneliti akan menguraikan dan menjabarkan hasil perhitungan nilai maksimum, nilai minimum, nilai rata-rata (mean) dan standar deviasi dari harga saham PT. Indofood, kurs euro dan tingkat inflasi.
Nilai minimum merupakan nilai yang terendah untuk setiap variabel, sedangkan nilai maksimum merupakan nilai yang tertinggi untuk setiap variabel dalam penelitian. Nilai rata-rata (mean) merupakan nilai rata-rata dari setiap variabel yang diteliti, sedangkan standar deviasi adalah sebaran data yang digunakan dalam penelitian yang mencerminkan data itu heterogen atau homogen yang bersifat fluktuatif. Dalam mengolah semua data yang tersedia, peneliti menggunakan bantuan software SPSS  17.0 untuk memberikan hasil output baik berupa tabel, grafik maupun bentuk lainnya. Hasil analisis statistik deskriptif dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4 Hasil Uji Statistik Deskriptif
Descriptive Statistics

N
Minimum
Maximum
Mean
Std. Deviation
Harga_Saham
12
4689.00
6368.00
5284.5000
514.11415
Kurs_Euro
12
12020.62
12534.45
12252.4800
140.66606
Tingkat_Inflasi
12
-.32
.93
.3100
.42776
Valid N (listwise)
12




Sumber : data diolah dengan SPSS 17.0
Berdasarkan dari hasil analisis statistik deskriptif menggunakan SPSS 17.0 yang menghasilkan output berupa tabel diatas menyatakan bahwa pada  kolom N menunjukkan jumlah data yang diproses yang masing-masing variabel berjumlah 12.
Pada kolom minimum menunjukkan nilai yang paling kecil dari data masing-masing variabel, yang pertama pada variabel harga saham dimana nilai minimum dari variabel tersebut adalah 4689,00. Variabel yang kedua pada variabel kurs euro dimana nilai minimum dari variabel tersebut adalah 12.020,62. Variabel yang ketiga pada tingkat inlasi dimana nilai minimum dari variabel tersebut adalah -0,32.
Pada kolom maximum menunjukkan nilai terbesar dari data masing-masing variabel, yang pertama pada variabel harga saham dimana nilai maximum dari variabel tersebut adalah 6368,00. Variabel yang kedua pada variabel kurs euro dimana nilai maximum dari variabel tersebut adalah 12.534,45. Variabel yang ketiga pada tingkat inflasi dimana nilai maximum dari variabel tersebut adalah 0,93.
Pada kolom mean menunjukkan nilai rata-rata di masing-masing variabel, yang pertama pada variabel harga saham dimana nilai rata-rata dari variabel tersebut adalah 5284,50. Variabel yang kedua pada variabel kurs euro dimana nilai rata-rata dari variabel tersebut adalah 12.252,48. Variabel yang ketiga pada tingkat inflasi dimana nilai minimum dari variabel tersebut adalah 0,31.
Pada kolom standar deviasi menunjukkan nilai standar deviasi data, nilai standar deviasi dari variabel harga saham adalah 514,11415 dan nilai standar deviasi dari variabel kurs euro adalah 140,66606 sedangkan nilai standar deviasi dari variabel tingkat inflasi adalah 0,42776.

Analisis Pengujian Normalitas Data
Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah dalam model regresi, variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal ataukah tidak. Model regresi yang baik adalah model regresi yang berdistribusi normal. Analisis data mensyaratkan data berdistribusi normal untuk menghindari bias dalam analisis data. Data outlier (tidak normal) harus dibuang karena menimbulkan bias dalam interpretasi dan mempengaruhi data lainnya. Cara untuk menguji normalitas data tersebut yaitu dengan melakukan perumusan hipotesis pada uji normalitas data dan mengambil keputusannya berdasarkan probabilitas.
·         Rumusan hipotesis untuk pengujian normalitas data :
Ho : data memiliki distribusi normal
Ha : data tidak memiliki distribusi normal
·         Pengambilan keputusan berdasarkan probabilitas :
Jika p-value > 0,05, maka Ho diterima
Jika p-value < 0,05, maka Ho ditolak
Tabel 5 Hasil Uji Normalitas Data
Variabel
Sig.
Keputusan
Harga Saham
0,288
Ho diterima
Kurs Euro
0,864
Ho diterima
Tingkat Inflasi
0,603
Ho diterima
Sumber : data diolah dengan SPSS 17.0
            Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa pada variabel harga saham mempunyai p-value yang lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,288 yang berarti Ho diterima dan data berdistribusi normal. Pada variabel kurs euro mempunyai p-value yang lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,864 yang berarti Ho diterima dan data berdistribusi normal. Pada variabel tingkat inflasi mempunyai p-value yang lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,603 yang berarti Ho diterima dan data berdistribusi normal. Dapat disimpulkan bahwa ketiga variabel tersebut memiliki distribusi normal dan dianggap telah mewakili populasi dari masing-masing variabel serta layak untuk diolah lebih lanjut.

Analisis Pengujian Asumsi Klasik
Dalam pembuatan model regresi dicari nilai statistik (nilai sampel) yang dapat digunakan untuk menduga parameter. Nilai statistik yang diperoleh merupakan penduga parameter yang baik apabila tidak bias, memiliki presisi tinggi dan konsisten. Untuk memenuhi ketiga syarat tersebut, maka persamaan regresi harus terbebas dari adanya gejala penyimpangan dari asumsi klasik. Uji asumsi klasik ini meliputi multikolinearitas, uji heterokedastisitas, dan uji autokorelasi.

Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas merupakan uji yang ditunjukkan ditujukan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (variabel independen). Model uji regresi yang baik selayaknya tidak terjadi multikolinearitas. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas yaitu :
1.      Nilai R2 yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris sangat tinggi, tetapi secara individual variabel bebas banyak yang tidak signifikan mempengaruhi variabel tersebut.
2.      Menganalisis korelasi antar variabel bebas. Jika antar variabel bebas ada korelasi yang cukup tinggi (diatas 0,90) maka hal ini merupakan indikasi adanya multikolinearitas.
3.      Multikolinearitas dapat juga dilihat dari VIF, jika VIF < 10 maka tingkat multikolinearitas dapat ditoleransi.
4.      Nilai Eigenvalue sejumlah satu atau lebih variabel bebas yang mendekati nol memberikan petunjuk adanya multikolinearitas
Dasar untuk menguji multikolinearitas pada penelitian ini mengikuti cara untuk mendeteksi multikolinearitas pada nomor 3 dan 4 dimana multikolinearitas dapat dilihat dari VIFnya dan nilai eigenvalue yang mendekati nol. Dalam hal ini, peneliti merumuskan hipotesis untuk uji multikolinearitas sebagai berikut :
·         Rumusan hipotesis untuk pengujian multikolinearitas :
Ho : tidak ada multikolinearitas
Ha : ada multikolinearitas
·         Pengambilan keputusan berdasarkan probabilitas :
Jika VIF  < 10 dan nilai eigenvalue jauh dari nol, maka Ho diterima
Jika VIF  > 10 dan nilai eigenvalue dekat dari nol, maka Ho ditolak
Tabel 6 Hasil Uji Multikolinearitas
Variabel
VIF
Nilai Eigenvalue
Keputusan
Kurs Euro
1,318
2,486
Ho diterima
Tingkat Inflasi
1,318
2,486
Ho diterima
Sumber : data diolah dengan SPSS 17.0
Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa kedua variabel independent tersebut memiliki nilai VIF sebesar 1,318 atau kurang dari 10 dan nilai eigenvalue berada jauh dari nol yaitu sebesar 2,486 yang berarti keputusannya Ho diterima dan tidak adanya multikolinearitas. Maka kesimpulan yang dapat diambil dari hasil uji tersebut yaitu dengan tidak adanya multikolinearitas menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut tidak ditemukan adanya korelasi dan model regresi tersebut dapat terhindar dari masalah multikolinearitas.
           
Uji Heterokedastisitas
Heterokedastisitas menunjukkan bahwa varians variabel tidak sama untuk semua pengamatan. Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut heterokedastisitas atau tidak terjadi heterokedastisitas karena data cross section memiliki data yang mewakili berbagai ukuran (kecil, sedang dan besar).
Salah satu cara untuk melihat adanya problem heterokedastisitas adalah dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) dengan residualnya (SRESID). Cara menganalisisnya :
§  Dengan melihat apakah titik-titik memiliki pola tertentu yang teratur seperti bergelombang, melebar kemudian menyempit, jika terjadi maka mengindikasikan terdapat heterokedastisitas.
§  Jika tidak terdapat pola tertentu yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y maka mengindikasikan tidak terjadi heterokedastisitas.
Tabel 7 Hasil Uji heterokedastisitas
Pada hasil penelitian, dapat diketahui bahwa dari hasil output yang hanya berupa titik-titik dapat dianalisa dengan melihat sebaran titik-titik yang acak diatas maupun dibawah 0 dari sumbu Y dan dapat disimpulkan tidak terjadi heterokedastisitas dalam model regresi ini.

Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik autokorelasi yang terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. Tujuan uji autokorelasi juga digunakan untuk mengetahui tentang ada atau tidaknya korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan periode t-1 pada persamaan regresi linier. Apabila terjadi korelasi maka menunjukkan adanya problem autokorelasi. Problem autokorelasi mungkin terjadi pada data time series (runtut waktu), sedangkan pada data crosssection (silang waktu), masalah autokorelasi jarang terjadi. Model regresi yang baik adalah model regresi yang bebas autokorelasi atau prasyarat yang harus terpenuhi adalah tidak adanya autokorelasi dalam model regresi.     
Salah satu cara untuk mendeteksi autokorelasi atau metode pengujian yang sering digunakan adalah dengan uji durbinwatson (uji DW) dengan ketentuan sebagai berikut :
·         Angka DW dibawah -2 berarti ada autokorelasi positif.
·         Angka DW dari -2 sampai +2 berarti tidak ada autokorelasi.
·         Angka DW diatas +2 berarti ada autokorelasi positif.
Dalam perhitungan dengan menggunakan software SPSS 17.0, diketahui bahwa nilai dari hasil uji durbin-watson ini adalah sebesar 1,013 yang berarti bahwa angka atau nilai DW dari pengujian ini berada dalam angka -2 sampai dengan +2 dan dapat diambil kesimpulan bahwa tidak adanya autokorelasi dalam model ini dan tidak terjadinya penyimpangan yang terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. 

Analisis Regresi Linier Berganda Pada Harga Saham
Dari hasil pengolahan data menggunakan software SPSS 17.0,  didapat hasil pengujian analisis regresi linier berganda dengan melihat pada tabel dibawah ini : Tabel 8 Hasil Uji Analisis Regresi Linier Berganda
Variabel
Unstandardized Coefficients
B
Std. Error
(constant)
-23087.167
13742.282
Kurs Euro
2.299
1.117
Tingkat Inflasi
670.429
367.298
Sumber : data diolah dengan SPSS 17.0
Dengan melihat tabel tersebut dapat diketahui hubungan antara variabel kurs euro terhadap rupiah Indonesia dan variabel tingkat inflasi pada variabel harga saham. Persamaan regresi linier berganda dapat dibentuk dengan menggunakan nilai yang terdapat pada kolom B, dari nilai-nilai tersebut, persamaan regresi linier berganda yang dibentuk adalah :
Y=-23087,167+2,299X1+670,429X2
Dari pengujian hasil regresi linier berganda pada persamaan diatas dapat diketahui bahwa nilai konstanta adalah sebesar -23087,167 yang artinya apabila tidak terdapat variabel independen seperti kurs euro dan tingkat inflasi maka besarnya harga saham adalah sebesar -23067,167 dengan asumsi besarnya variabel-variabel yang lain tidak ada perubahan. Standard error adalah 13742,282 (satuan yang digunakan oleh variabel dependen atau dalam hal ini adalah harga saham).
Koefisien regresi pada kurs euro pada hasil pengujian ini adalah sebesar 2,299 yang artinya kurs euro memiliki pengaruh yang positif terhadap harga saham perusahaan, dimana apabila kurs euro naik sebesar 1 euro maka harga saham perusahaan akan naik sebesar 2,299 dengan asumsi variabel-variabel yang lain tidak berubah. Standar error adalah 1,117 (satuan yang digunakan oleh variabel dependen atau dalam hal ini adalah harga saham).
Koefisien regresi pada tingkat inflasi pada hasil pengujian ini adalah sebesar 670,429 yang artinya tingkat inflasi memiliki pengaruh yang positif terhadap harga saham perusahaan, dimana apabila tingkat inflasi naik sebesar 1% maka harga saham perusahaan akan naik sebesar 670,429 dengan asumsi variabel-variabel yang lain tidak berubah. Standar error adalah 367,298 (satuan yang digunakan oleh variabel dependen atau dalam hal ini adalah harga saham).

Analisis Pengujian Koefisien Determinasi Berganda (R2)
Dalam regresi linier berganda terdapat nilai koefisien determinasi. Koefisien determinasi barganda (R2) dalam regresi linier berganda bertujuan untuk mengetahui berapa besar peran atau kontribusi dari beberapa variabel terikat (independent) yang terdapat dalam persamaan regresi tersebut dalam menjelaskan nilai variabel bebas (dependent) dan besarnya koefisien determinasi dari 0 sampai dengan 1.
Tabel 9 Hasil Uji Koefisien Determinasi Berganda (R2)
Model
R
R Square
Adjusted R square
Std. Error of the Estimate
1
0,602
0,362
0,220
453,93677
Sumber : data diolah dengan SPSS 17.0
Dari hasil pengujian tersebut yang dapat dilihat pada tabel diatas diketahui bahwa dalam regresi linier berganda, nilai R sebesar 0,602 menunjukkan korelasi ganda yaitu antara kedua variabel independen (kurs euro dan tingkat inflasi) dengan variabel dependen (harga saham).
Nilai pada kolom Adjusted R Square sebesar 0,220 menunjukkan besarnya peran atau kontribusi variabel independen yaitu kurs euro dan tingkat inflasi hanya mampu menjelaskan variabel harga saham sebesar 22% dan sisanya dijelaskan oleh faktor-faktor lain.

Analisis Pengujian Parsial (Uji-t)
Uji parsial atau uji-t adalah jenis pengujian statistik yang bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan dari nilai yang diperkirakan dengan nilai hasil perhitungan statistik. Nilai perkiraan ini bermacam-macam asalnya, ada yang kita tentukan sendiri, berdasar isu, nilai pernyataan dan lain-lain. Uji parsial dilakukan untuk menguji pengaruh variabel independen berdasarkan variabel control terhadap variabel dependen secara individu dengan tingkat signifikan 5% dan dilihat yang paling kecil.
Cara untuk menguji parsial (uji-t) tersebut yaitu dengan melakukan perumusan hipotesis pada masing-masing variabel independen (kurs euro dan tingkat inflasi) terhadap variabel dependen (harga saham) dan mengambil keputusannya berdasarkan probabilitas dan t hitung.
·         Pengambilan keputusan berdasarkan probabilitas :
Jika p-value > 0,05, maka Ho diterima
Jika p-value < 0,05, maka Ho ditolak
·         Pengambilan keputusan berdasarkan t hitung :
Jika t hitung > t tabel, maka Ho diterima
Jika t hitung < t tabel, maka Ho ditolak
Tabel 10 Hasil Uji-t
Variabel
t
Sig.
keputusan
Kurs Euro
2,058
0,070
Ho diterima
Tingkat Inflasi
1,825
0,101
Ho diterima
Sumber : data diolah dengan SPSS 17.0
1.      Analisis pengaruh kurs euro terhadap harga saham
·      Ho : tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara kurs euro terhadap harga saham PT. Indofood Sukses Makmur,Tbk.
·      Ha : terdapat pengaruh yang signifikan antara kurs euro terhadap harga saham PT. Indofood Sukses Makmur,Tbk.
Dengan berdasar pada tabel hasil uji-t diatas, dapat diketahui bahwa pada variabel kurs euro terdapat nilai p-value sebesar 0,070 atau lebih besar dari 0,05 dan t hitung sebesar 2,058 atau lebih besar dari t tabel yaitu 1,796 yang berarti Ho diterima dan tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel kurs euro terhadap harga saham PT.Indofood Sukses Makmur,Tbk. Hal ini disebabkan karena dalam operasional perusahaan , kebutuhan akan pemakaian terhadap mata uang euro belum terlalu diperlukan mengingat krisis utang yang melanda di kawasan Eropa, sehingga variabel kurs euro tidak mempunyai pengaruh terhadap harga saham perusahaan yaitu PT. Indofood Sukses Makmur,Tbk.

2.      Analisis pengaruh tingkat inflasi terhadap harga saham
·      Ho : tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara tingkat inflasi terhadap harga saham PT. Indofood Sukses Makmur,Tbk.
·      Ha : terdapat pengaruh yang signifikan antara kurs euro terhadap harga saham PT. Indofood Sukses Makmur,Tbk.
Dengan berdasar pada tabel hasil uji-t diatas, dapat diketahui bahwa pada variabel tingkat inflasi terdapat nilai p-value sebesar 0,101 atau lebih besar dari 0,05 dan t hitung sebesar 1,825 atau lebih besar dari t tabel yaitu 1,796 yang berarti Ho diterima dan tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel tingkat inflasi terhadap harga saham PT.Indofood Sukses Makmur,Tbk. Hal ini disebabkan karena pada periode tersebut tingkat inflasi berangsur-angsur pulih atau tidak menimbulkan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi terutama sektor pasar modal terutama harga saham, sehingga variabel tingkat inflasi tidak mempunyai pengaruh terhadap harga saham perusahaan yaitu PT. Indofood Sukses Makmur,Tbk.
Analisis Pengujian Simultan (Uji-f)
Analisis Uji simultan (Uji-f), digunakan untuk menguji secara bersama-sama seluruh variabel independent mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependent. Demikian pula sebaliknya secara bersama-sama variabel independent tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependent.
Dasar pengambilan keputusan :
1.    Pengambilan keputusan berdasarkan probabilitas :
Jika p-value > 0,05, maka Ho diterima
Jika p-value < 0,05, maka Ho ditolak
2.    Pengambilan keputusan berdasarkan F-hitung :
Jika F-hitung > F-tabel, maka Ho ditolak
Jika F-hitung < F-tabel, maka Ho diterima
Tabel 11 Hasil Uji-f
Model
Sum of Square
Df
Mean Square
F
Sig.
Regression
1052919,691
2
526459,845
2,555
0,132
Residual
1854527,309
9
206058,590


Total
2907447,000
11



Sumber : data diolah dengan SPSS 17.0
            Analisis pengaruh kurs euro dan tingkat inflasi terhadap harga saham PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk.
·           Ho : tidak ada pengaruh antara kurs euro dan tingkat inflasi terhadap harga saham PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk.
·           Ha : ada pengaruh antara kurs euro dan tingkat inflasi terhadap harga saham PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk.
            Berdasarkan pada tabel diatas, dapat diketahui bahwa nilai p-value pada hasil uji-f ini adalah sebesar 0,132 atau lebih besar dari 0,05 dan nilai f-hitung sebesar 2,555 atau lebih kecil dari f-tabel sebesar 4,256 maka Ho diterima yang artinya tidak terdapat pengaruh secara bersama-sama antara kedua variabel independen yaitu kurs euro dan tingkat inflasi terhadap variabel dependen yaitu harga saham PT. Indofood Sukses Makmur,Tbk.

PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan pada perumusan masalah dalam penulisan ilmiah ini, diperoleh suatu kesimpulan dari semua pembahasan yang disesuaikan dengan hipotesis yang diuraikan sebagai berikut :
1.      Pengujian statistik terhadap variabel kurs euro menunjukkan tidak adanya pengaruh yang signifikan terhadap harga saham PT. Indofood Sukses Makmur,Tbk. yang ditunjukkan dengan hasil dari uji parsial atau uji-t yang menghasilkan p-value sebesar 0,070 atau lebih besar dari 0,05 dan t hitung sebesar 2,058 atau lebih besar dari t tabel yaitu 1,796 yang berarti Ho diterima dan tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel kurs euro sebagai variabel independen terhadap variabel harga saham PT.Indofood Sukses Makmur,Tbk sebagai variabel dependen.
2.      Pengujian statistik terhadap variabel tingkat inflasi menunjukkan tidak adanya pengaruh yang signifikan terhadap harga saham PT. Indofood Sukses Makmur,Tbk. yang ditunjukkan dengan hasil uji parsial atau uji-t yang menghasilkan p-value sebesar 0,101 atau lebih besar dari 0,05 dan t hitung sebesar 1,825 atau lebih besar dari t tabel yaitu 1,796 yang berarti Ho diterima dan tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel tingkat inflasi sebagai variabel independen terhadap variabel harga saham PT.Indofood Sukses Makmur,Tbk sebagai variabel dependen dan dari uji koefisien determinasi dari hasil pengolahan regresi linier berganda yang diketahui nilai pada Adjusted R Square sebesar 0,220 menunjukkan besarnya peran atau kontribusi variabel independen yaitu kurs euro dan tingkat inflasi yang hanya mampu menjelaskan variabel harga saham sebesar 22% dan sisanya atau sebesar 78% dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi harga saham.
3.      Pengujian statistik terhadap semua variabel independen yaitu variabel kurs euro dan tingkat inflasi yang secara bersama-sama dilakukan pengujian terhadap variabel dependen yaitu harga saham, menunjukkan tidak adanya pengaruh dari kedua variabel independen tersebut secara bersama-sama terhadap variabel harga saham, yang ditunjukkan dengan hasil uji-f yang menghasilkan p-value pada hasil uji-f ini adalah sebesar 0,132 atau lebih besar dari 0,05 dan nilai f-hitung sebesar 2,555 atau lebih kecil dari f-tabel maka Ho diterima yang artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama antara kedua variabel independen yaitu kurs euro dan tingkat inflasi terhadap variabel dependen yaitu harga saham PT. Indofood Sukses Makmur,Tbk.
Saran
            Berdasarkan pada kesimpulan dari hasil keseluruhan analisis, penulis hanya memberikan saran mengenai analisis ini yaitu bahwa masih banyak faktor-faktor yang akan mempengaruhi harga saham suatu perusahaan baik yang datangnya dari dalam perusahaan maupun dari luar perusahaan itu sendiri, dan ternyata dari kedua faktor yang dianalisis hanya memberikan pengaruh yang sedikit atau tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap harga saham perusahaan tersebut.



DAFTAR PUSTAKA


Agus Irianto, Statistik :Konsep Dasar, Aplikasi, dan Pengembangannya, Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2004.
C.Trihendradi, 7 Langkah Mudah Melakukan Analisis Statistik Menggunakan SPSS 17, Yogyakarta : CV.Andi Offset, 2009.
Imamudin Yuliadi, Ekonomi Moneter, Jakarta : PT. Macanan Jaya, 2008.
Iskandar Putong, Economics, Pengantar Mikro dan Makro, Jakarta : Mitra  Wacana Media, 2007.
M. Paulus Situmorang, Pengantar Pasar Modal, Jakarta : Mitra Wacana Media, 2008.
Sadono Sukirno, Makro Ekonomi Teori Pengantar, Edisi Ketiga, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2008.

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates